Serat Abaka
Karakteristik Umum, Sifat, dan Kegunaan Praktis Serat Abaka
Serat abaka berasal dari tanaman keluarga pisang, genus Musa, yang dahulu disebut rami Manila. Tanaman ini tumbuh dan berkembang dengan baik di Filipina, pulau Kalimantan di Indonesia, Guatemala, Panama, dan lokasi lainnya. Jenis serat ini diperoleh dengan memisahkan bagian terluar pelepah daun, menghasilkan serat yang relatif panjang, sekitar 15 kaki panjangnya.
Batang tanaman ini menyerupai pohon pisang yang umum ditemukan di Thailand, dengan tinggi sekitar 15-25 kaki. Batang sejatinya berada di tengah pelepah daun yang mengelilinginya dan memiliki diameter sekitar 2 inci.
Ekstraksi serat biasanya dilakukan dalam 2 tahap. Tahap pertama memisahkan lapisan luar dari pelepah. Tahap kedua memisahkan pulp dan komponen lain dari serat. Proses ekstraksi serat ini harus dilakukan dengan cepat setelah tanaman baru saja dipotong, jika tidak serat akan sulit dipisahkan. Setelah serat abaka dipisahkan, serat tersebut kemudian dicuci bersih, menghasilkan serat dengan warna putih mengkilap. Jika dibiarkan terlalu lama, serat akan segera berubah warna.
Sifat Umum Serat Abaka
Serat abaka sangat kuat, meregang dengan baik, dan memiliki elastisitas yang baik, serta sangat tahan terhadap mikroorganisme di air asin. Dibandingkan dengan serat lain yang berukuran sama, bagian pangkal pelepah daun lebih kuat daripada bagian ujungnya. Ketika membandingkan kekuatan serat abaka dengan serat sisal, serat abaka memiliki kekuatan relatif 100, sedangkan serat sisal hanya memiliki kekuatan 75, meskipun komposisi serat abaka dan sisal cukup mirip.
Serat Abaka dan
Serat abaka kuat dan mudah dilenturkan, sehingga cocok untuk membuat tali, alas meja, dan kain pakaian. Kain yang dibuat dari serat abaka untuk pakaian ringan, indah, dan sangat tahan lama.

